Rabu, 29 April 2015

Tugas Essay Kesehatan Mental

Essay 1

Sekilas Mengenai Depresi

Depresi adalah gangguan mood (kondisi emosional) berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang dan kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain seolah ada penghalang yang tampak atau timbul tanpa alasan yang jelas. Depresi dapat diartikan sebagai suatu reaksi yang berlebihan terhadap suatu kejadian yang menjadi pemicunya. Depresi uga dapat diartikan suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen  psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia, serta komponen somatik : anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.

Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain : faktor heriditer dan genetik, faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid, faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagainya. Depresi biasanya dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi,  pembedahan, kecelakaan, persalinan dan sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri dan akibat kerja keras. Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung dalam waktu yang  pendek dengan adanya faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang  bersangkutan tidak sesuai lagi dengan realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang lain.

Fenomena Depresi

Dugaan bunuh diri di balik kematian aktor Robin Williams cukup mengejutkan. Bintang film Mrs Doubtfire ini dikenal lucu dan disukai banyak orang, nyaris tidak menyiratkan adanya masalah kejiwaan yang menghantuinya.

Kenyataannya, sang aktor sudah sejak lama mengalami ketergantungan alkohol dan obat terlarang. Para pakar kesehatan jiwa menilai, Williams juga mengidap gangguan bipolar, yakni gangguan suasana hati yang dicirikan dengan episode manik dan depresif.

"Tampaknya, dia sedang berada dalam salah satu episode depresi saat dia mengakhiri hidupnya," John M Hrohol, Psy.D, psikolog yang juga founder sekaligus CEO Psych Central, dikutip dari psychcentral.com, Selasa (18/8/2014).

Episode depresi dalam siklus bipolar membuat seseorang terjerumus dalam suasana hati yang paling menyedihkan. Berbagai perasaan negatif termasuk kesepian bisa muncul, sekalipun pada orang yang begitu populer dan disukai banyak orang seperti halnya Williams.

"Saat depresi, orang akan lupa begitu saja," kata Julie Cerel, seorang psikolog dari American Association of Suicidology, mengomentari dugaan bunuh diri pada kasus Robin Williams.

"Mereka habis oleh depresi dan perasaan tidak berharga karena lupa sama sekali akan hal-hal indah yang mereka punya dalam hidupnya," lanjut Cerel yang juga seorang profesor di University of Kentucky.

Menurut Cerel, mengalami depresi dan berada dalam kecenderungan bunuh diri bisa mengacaukan realitas. Realitas bahwa orang tersebut punya orang-orang dekat yang mencintainya, dan bahwa dirinya dicintai oleh semua orang.

Dari fenomena di atas dapat diambil kesimpulan bahwa depresi yang dialami Robin Wiliam merupakan depresi dimana dia merasakan suasana hati yang paling menyedihkan. Berbagai perasaan negatif muncul, dia lupa akan perasaan senang yang pernah dialaminya dan hanya merasakan perasaan sedih atau negatif sehingga dia mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya.

Sumber

Lumongga Namora. 2009. Depresi Tinjauan Psikologis. Jakarta: Kencana Pranada
Chaplin, C. P. 1989. Kamus Lengkap Psikologi. Penerjemah: Dr. Kartini Kartono. Jakarta; Rajawali
http://health.detik.com/read/2014/08/12/105721/2659597/763/kasus-robin-williams-jangan-remehkan-depresi-dan-gangguan-bipolar


Essay 2

Apa itu kesehatan mental?

DEFINISI SEHAT. Sehat (Health) secara umum dapat dipahami sebagai kesejahteraan secara penuh (keadaan yang sempurna) baik secara fisik, mental, maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau keadaan lemah. Sedangkan di Indonesia, UU Kesehatan No. 23/ 1992 menyatakan bahwa sehat adalah suatu keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial dimana memungkinkan setiap manusia untuk hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomis. World Health Organization (WHO, 2001), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.
Kesehatan mental menurut seorang ahli kesehatan Merriam Webster, merupakan suatu keadaan emosional dan psikologis yang baik, dimana individu dapat memanfaatkan kemampuan kognisi dan emosi, berfungsi dalam komunitasnya, dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Inti dari kesehatan mental sendiri adalah lebih pada keberadaan dan pemeliharaan mental yang sehat. Akan tetapi, dalam praktiknya seringkali kita temui bahwa tidak sedikit praktisi di bidang kesehatan mental lebih banyak menekankan perhatiannya pada gangguan mental daripada mengupayakan usaha-usaha mempertahankan kesehatan mental itu sendiri.

SEHAT SEBAGAI KONTINUM. Kondisi sehat dan sakit pada manusia merupakan suatu kontinum, sehingga sangat sulit memberikan batasan yang jelas saat melakukan evaluasinya. Akan tetapi, mengamati fenomena tersebut, maka diyakini taraf kesehatan seseorang dapat ditingkatkan bahkan dioptimalkan. Hal inilah yang mendasari Gerakan Kesehatan Mental dewasa ini. Tidak hanya memandang bagaimana seseorang sembuh dari sakitnya, tetapi bagaimana meningkatkan taraf kesehatan seseorang menjadi lebih optimal.

INDIVIDU YANG SEHAT MENTAL. Pribadi yang normal/ bermental sehat adalah pribadi yang menampilkan tingkah laku yang adekuat & bisa diterima masyarakat pada umumnya, sikap hidupnya sesuai norma & pola kelompok masyarakat, sehingga ada relasi interpersonal & intersosial yang memuaskan (Kartono, 1989). Sedangkan menurut Karl Menninger, individu yang sehat mentalnya adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk menahan diri, menunjukkan kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain, serta memiliki sikap hidup yang bahagia. Saat ini, individu yang sehat mental dapat dapat didefinisikan dalam dua sisi, secara negatif dengan absennya gangguan mental dan secara positif yaitu ketika hadirnya karakteristik individu sehat mental. Adapun karakteristik individu sehat mental mengacu pada kondisi atau sifat-sifat positif, seperti: kesejahteraan psikologis (psychological well-being) yang positif, karakter yang kuat serta sifat-sifat baik/ kebajikan (virtues) (Lowenthal, 2006).

KONSEPSI YANG SALAH MENGENAI KESEHATAN MENTAL. Selama ini masih banyak mitos dan konsepsi yang diyakini masyarakat Indonesia mengenai Kesehatan Mental yang keliru, antara lain: gangguan mental adalah herediter/ diturunkan, gangguan mental tidak dapat disembuhkan, gangguan mental muncul secara tiba-tiba, gangguan mental merupakan aib/ noda bagi lingkungannya, gangguan mental merupakan peristiwa tunggal, seks merupakan penyebab munculnya gangguan mental, kesehatan mental cukup dipahami dan ditangani oleh satu disiplin ilmu saja, kesehatan mental dipandang sama dengan “ketenangan batin”, yang dimaknai sebagai tidak ada konflik, tidak ada masalah, hidup tanpa ambisi, pasrah.

Apa itu kecerdasan spiritual?

Kecerdasan (dalam bahasa Inggris disebut intelligence dan hahasa Arab disebut al-dzaka`) menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti, kemampuan (alqudrah) dalam memahami sesuatu secara cepat dan sempurna. Begitu cepat penangkapannya itu sehingga Ibnu Sina, seorang psikolog falsafi, menyebut kecerdasan sebagai kekuatan intuitif (al-badlsj (Mujib, 2001). Berdasarkan hasil penelitian di atas, J.P. Chaplin (1999) kemudian merumuskan tiga definisi kecerdasan, yaitu: 1. Kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. 2. Kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, yang meliputi empat unsur, seperti memahami, berpendapat, mengontrol, dan mengritik. 3. Kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali.

Pada mulanya, kecerdasan hanya berkaitan dengan kemampuan struktur akal (intellect) dalam menangkap gejala sesuatu, sehingga kecerdasan hanva hersentuhan dengan aspek-aspek kognitif (al-majal al- ma'rifi). Namun pada perkembangan berikutnya, disadari hahwa kehidupan manusia bukan semata-mata memenuhi struktur akal, melainkan terdapat struktur kalbu yang perlu mendapat tempat tersendiri untuk menumbuhkan aspek-aspek afektif (al-majal al-infi'ali), seperti kehidupan emosional, moral, Spiritual, dan agama. Karena itu, jenis-jenis kecerdasan pada diri seseorang sangat beragam seiring dengan kemampuan atau potensi yang ada pada dirinya.

Pengertian kecerdasan spiritual (SQ) sendiri adalah kemampuan jiwa yang dimiliki seseorang untuk membangun dirinya secara utuh melalui berbagai kegiatan positif sehingga mampu menyelesaikan berbagai persoalan dengan melihat makna yang terkandung didalamnya. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual (SQ) akan mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan melihat permasalahan itu dari sisi positifnya sehingga permasalahan dapat diselesaikan dengan baik dan cenderung melihat suatu masalah dari maknanya. Najati (2002) Danah dan Ian Marshall mendefinisikan kecerdasan Spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan inti menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan lebih kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Kecerdasan spiritual (SQ) erat kaitannya dengan keadaan jiwa, batin dan rohani seseorang. Ada yang beranggapan bahwa kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan tertinggi dari kecerdasan lain seperti kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emsoional (EQ). Hal ini dikarenakan ketika orang sudah memiliki kecerdasan spiritual (SQ), orang itu mampu memaknai kehidupan sehingga dapat hidup dengan penuh kebijaksanaan.

Di Mujib (2001) mendefinisikan kecerdasan Spiritual sebagai “kecerdasan qalbu yang berhubungan dengan kualitas batin seseorang. Kecerdasan ini mengarahkan seseorang untuk berbuat lebihmanusiawi, sehingga dapat menjangkau nilai-nilai luhur yang mungkin belum tersentuh oleh akal fikiran manusia”. 

Hubungan

Jika individu memiliki mental yang sehat, individu dapat memanfaatkan kemampuan kognisi dan emosi dengan baik dan berfungsi dalam komunitasnya serta memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, dan juga mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan melihat permasalahan itu dari sisi positifnya sehingga permasalahan dapat diselesaikan dengan baik. Dengan mental yang sehat individu dapat memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi karena dia selalu berfikir dengan positif dan memaknai segala sesuatu yang dia lakukan.

Sumber

Dewi, Kartika Sari. (2012). Kesehatan Mental. Semarang : UPT UNDIP Press Semarang
Ancok, D dan Suroso, F. N. 2001. Psikologi Islami,. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Pelajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar