Sekilas Mengenai Depresi
Depresi adalah gangguan mood (kondisi emosional)
berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan
berperilaku) seseorang dan kesulitan untuk berkomunikasi dengan orang lain
seolah ada penghalang yang tampak atau timbul tanpa alasan yang jelas. Depresi
dapat diartikan sebagai suatu reaksi yang berlebihan terhadap suatu kejadian
yang menjadi pemicunya. Depresi uga dapat diartikan suatu jenis alam perasaan
atau emosi yang disertai komponen
psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa dan tidak bahagia,
serta komponen somatik : anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin),
tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.
Depresi disebabkan oleh banyak faktor antara lain :
faktor heriditer dan genetik, faktor konstitusi, faktor kepribadian pramorbid,
faktor fisik, faktor psikobiologi, faktor neurologik, faktor biokimia dalam
tubuh, faktor keseimbangan elektrolit dan sebagainya. Depresi biasanya
dicetuskan oleh trauma fisik seperti penyakit infeksi, pembedahan, kecelakaan, persalinan dan
sebagainya, serta faktor psikik seperti kehilangan kasih sayang atau harga diri
dan akibat kerja keras. Depresi merupakan reaksi yang normal bila berlangsung
dalam waktu yang pendek dengan adanya
faktor pencetus yang jelas, lama dan dalamnya depresi sesuai dengan faktor
pencetusnya. Depresi merupakan gejala psikotik bila keluhan yang bersangkutan tidak sesuai lagi dengan
realitas, tidak dapat menilai realitas dan tidak dapat dimengerti oleh orang
lain.
Fenomena Depresi
Dugaan bunuh diri di balik kematian aktor Robin
Williams cukup mengejutkan. Bintang film Mrs Doubtfire ini dikenal lucu dan
disukai banyak orang, nyaris tidak menyiratkan adanya masalah kejiwaan yang
menghantuinya.
Kenyataannya, sang aktor sudah sejak lama mengalami
ketergantungan alkohol dan obat terlarang. Para pakar kesehatan jiwa menilai,
Williams juga mengidap gangguan bipolar, yakni gangguan suasana hati yang
dicirikan dengan episode manik dan depresif.
"Tampaknya, dia sedang berada dalam salah satu
episode depresi saat dia mengakhiri hidupnya," John M Hrohol, Psy.D,
psikolog yang juga founder sekaligus CEO Psych Central, dikutip dari
psychcentral.com, Selasa (18/8/2014).
Episode depresi dalam siklus bipolar membuat
seseorang terjerumus dalam suasana hati yang paling menyedihkan. Berbagai
perasaan negatif termasuk kesepian bisa muncul, sekalipun pada orang yang
begitu populer dan disukai banyak orang seperti halnya Williams.
"Saat depresi, orang akan lupa begitu
saja," kata Julie Cerel, seorang psikolog dari American Association of
Suicidology, mengomentari dugaan bunuh diri pada kasus Robin Williams.
"Mereka habis oleh depresi dan perasaan
tidak berharga karena lupa sama sekali akan hal-hal indah yang mereka punya
dalam hidupnya," lanjut Cerel yang juga seorang profesor di University of
Kentucky.
Menurut Cerel, mengalami depresi dan berada dalam
kecenderungan bunuh diri bisa mengacaukan realitas. Realitas bahwa orang
tersebut punya orang-orang dekat yang mencintainya, dan bahwa dirinya dicintai
oleh semua orang.
Dari fenomena di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa depresi yang dialami Robin Wiliam merupakan depresi dimana dia merasakan suasana
hati yang paling menyedihkan. Berbagai perasaan negatif muncul, dia lupa akan
perasaan senang yang pernah dialaminya dan hanya merasakan perasaan sedih atau
negatif sehingga dia mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya.
Sumber
Lumongga Namora. 2009. Depresi Tinjauan Psikologis.
Jakarta: Kencana Pranada
Chaplin,
C. P. 1989. Kamus Lengkap Psikologi. Penerjemah: Dr. Kartini Kartono. Jakarta;
Rajawali
http://health.detik.com/read/2014/08/12/105721/2659597/763/kasus-robin-williams-jangan-remehkan-depresi-dan-gangguan-bipolar
Essay 2
Apa
itu kesehatan mental?
DEFINISI SEHAT. Sehat (Health) secara umum dapat dipahami sebagai
kesejahteraan secara penuh (keadaan yang sempurna) baik secara fisik, mental,
maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau keadaan lemah. Sedangkan
di Indonesia, UU Kesehatan No. 23/ 1992 menyatakan bahwa sehat adalah suatu
keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial dimana memungkinkan setiap
manusia untuk hidup produktif baik secara sosial maupun ekonomis. World Health
Organization (WHO, 2001), menyatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi
dari kesejahteraan yang disadari individu, yang di dalamnya terdapat kemampuan-kemampuan
untuk mengelola stres kehidupan yang wajar, untuk bekerja secara produktif dan
menghasilkan, serta berperan serta di komunitasnya.
Kesehatan mental menurut seorang ahli kesehatan
Merriam Webster, merupakan suatu keadaan emosional dan psikologis yang baik,
dimana individu dapat memanfaatkan kemampuan kognisi dan emosi, berfungsi dalam
komunitasnya, dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Inti dari kesehatan
mental sendiri adalah lebih pada keberadaan dan pemeliharaan mental yang sehat.
Akan tetapi, dalam praktiknya seringkali kita temui bahwa tidak sedikit
praktisi di bidang kesehatan mental lebih banyak menekankan perhatiannya pada
gangguan mental daripada mengupayakan usaha-usaha mempertahankan kesehatan
mental itu sendiri.
SEHAT SEBAGAI KONTINUM. Kondisi sehat dan sakit pada manusia merupakan
suatu kontinum, sehingga sangat sulit memberikan batasan yang jelas saat melakukan
evaluasinya. Akan tetapi, mengamati fenomena tersebut, maka diyakini taraf
kesehatan seseorang dapat ditingkatkan bahkan dioptimalkan. Hal inilah yang
mendasari Gerakan Kesehatan Mental dewasa ini. Tidak hanya memandang bagaimana
seseorang sembuh dari sakitnya, tetapi bagaimana meningkatkan taraf kesehatan
seseorang menjadi lebih optimal.
INDIVIDU YANG SEHAT MENTAL. Pribadi yang normal/ bermental sehat adalah
pribadi yang menampilkan tingkah laku yang adekuat & bisa diterima
masyarakat pada umumnya, sikap hidupnya sesuai norma & pola kelompok
masyarakat, sehingga ada relasi interpersonal & intersosial yang memuaskan
(Kartono, 1989). Sedangkan menurut Karl Menninger, individu yang sehat
mentalnya adalah mereka yang memiliki kemampuan untuk menahan diri, menunjukkan
kecerdasan, berperilaku dengan menenggang perasaan orang lain, serta memiliki
sikap hidup yang bahagia. Saat ini, individu yang sehat mental dapat dapat
didefinisikan dalam dua sisi, secara negatif dengan absennya gangguan mental
dan secara positif yaitu ketika hadirnya karakteristik individu sehat mental.
Adapun karakteristik individu sehat mental mengacu pada kondisi atau
sifat-sifat positif, seperti: kesejahteraan psikologis (psychological well-being) yang positif, karakter yang kuat serta sifat-sifat
baik/ kebajikan (virtues) (Lowenthal,
2006).
KONSEPSI YANG SALAH
MENGENAI KESEHATAN MENTAL. Selama ini masih banyak mitos dan konsepsi
yang diyakini masyarakat Indonesia mengenai Kesehatan Mental yang keliru,
antara lain: gangguan mental adalah herediter/ diturunkan, gangguan mental
tidak dapat disembuhkan, gangguan mental muncul secara tiba-tiba, gangguan
mental merupakan aib/ noda bagi lingkungannya, gangguan mental merupakan
peristiwa tunggal, seks merupakan penyebab munculnya gangguan mental, kesehatan
mental cukup dipahami dan ditangani oleh satu disiplin ilmu saja, kesehatan
mental dipandang sama dengan “ketenangan batin”, yang dimaknai sebagai tidak
ada konflik, tidak ada masalah, hidup tanpa ambisi, pasrah.
Apa
itu kecerdasan spiritual?
Kecerdasan
(dalam bahasa Inggris disebut intelligence dan hahasa Arab disebut al-dzaka`)
menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu.
Dalam arti, kemampuan (alqudrah) dalam memahami sesuatu secara cepat dan
sempurna. Begitu cepat penangkapannya itu sehingga Ibnu Sina, seorang psikolog
falsafi, menyebut kecerdasan sebagai kekuatan intuitif (al-badlsj (Mujib,
2001). Berdasarkan hasil penelitian di atas, J.P. Chaplin (1999) kemudian
merumuskan tiga definisi kecerdasan, yaitu: 1. Kemampuan menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. 2. Kemampuan menggunakan konsep abstrak secara efektif, yang meliputi empat unsur, seperti memahami, berpendapat, mengontrol, dan mengritik. 3. Kemampuan memahami pertalian-pertalian dan belajar dengan cepat sekali.
Pada
mulanya, kecerdasan hanya berkaitan dengan kemampuan struktur akal (intellect)
dalam menangkap gejala sesuatu, sehingga kecerdasan hanva hersentuhan dengan
aspek-aspek kognitif (al-majal al- ma'rifi). Namun pada perkembangan
berikutnya, disadari hahwa kehidupan manusia bukan semata-mata memenuhi
struktur akal, melainkan terdapat struktur kalbu yang perlu mendapat tempat
tersendiri untuk menumbuhkan aspek-aspek afektif (al-majal al-infi'ali),
seperti kehidupan emosional, moral, Spiritual, dan agama. Karena itu,
jenis-jenis kecerdasan pada diri seseorang sangat beragam seiring dengan
kemampuan atau potensi yang ada pada dirinya.
Pengertian
kecerdasan spiritual (SQ) sendiri adalah kemampuan jiwa yang dimiliki seseorang
untuk membangun dirinya secara utuh melalui berbagai kegiatan positif sehingga
mampu menyelesaikan berbagai persoalan dengan melihat makna yang terkandung
didalamnya. Orang yang memiliki kecerdasan spiritual (SQ) akan mampu
menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan melihat permasalahan itu
dari sisi positifnya sehingga permasalahan dapat diselesaikan dengan baik dan
cenderung melihat suatu masalah dari maknanya. Najati (2002) Danah dan Ian
Marshall mendefinisikan kecerdasan Spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi
persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan inti menempatkan perilaku dan
hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan lebih kaya, kecerdasan untuk
menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan
dengan yang lain. Kecerdasan spiritual (SQ) erat kaitannya dengan keadaan jiwa,
batin dan rohani seseorang. Ada yang beranggapan bahwa kecerdasan spiritual
(SQ) adalah kecerdasan tertinggi dari kecerdasan lain seperti kecerdasan
intelektual (IQ) dan kecerdasan emsoional (EQ). Hal ini dikarenakan ketika
orang sudah memiliki kecerdasan spiritual (SQ), orang itu mampu memaknai
kehidupan sehingga dapat hidup dengan penuh kebijaksanaan.
Di Mujib (2001) mendefinisikan kecerdasan
Spiritual sebagai “kecerdasan qalbu yang berhubungan dengan kualitas batin
seseorang. Kecerdasan ini mengarahkan seseorang untuk berbuat lebihmanusiawi,
sehingga dapat menjangkau nilai-nilai luhur yang mungkin belum tersentuh oleh
akal fikiran manusia”.
Hubungan
Jika
individu memiliki mental yang sehat, individu dapat memanfaatkan kemampuan
kognisi dan emosi dengan baik dan berfungsi dalam komunitasnya serta memenuhi
kebutuhan hidupnya sehari-hari, dan juga mampu menyelesaikan permasalahan yang
dihadapinya dengan melihat permasalahan itu dari sisi positifnya sehingga
permasalahan dapat diselesaikan dengan baik. Dengan mental yang sehat individu
dapat memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi karena dia selalu berfikir
dengan positif dan memaknai segala sesuatu yang dia lakukan.
Sumber
Dewi,
Kartika Sari. (2012). Kesehatan Mental. Semarang
: UPT UNDIP Press Semarang
Ancok,
D dan Suroso, F. N. 2001. Psikologi
Islami,. Yogyakarta : Penerbit Pustaka Pelajar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar