Senin, 09 Januari 2017

Tugas Kelompok Sistem Informasi Psikologi

Tugas 1

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI

Kebutuhan Berafiliasi, Introversi Kepribadian Serta Ketergantungan pada Facebook pada Mahasiswa


Disusun Oleh

Nama    :1. Desba Nurshafitri          12513200
                2. Edwin Rico R.                12513775
Kelas     : 4PA11
                        Mata Kuliah : Sistem Informasi Psikologi 

Depok

2016


Kebutuhan Berafiliasi, Introversi Kepribadian Serta Ketergantungan pada Facebook pada Mahasiswa
A.   Rangkuman Jurnal
Pada penelitian yang berjudul “Kebutuhan Berafiliasi, Introversi Kepribadian Serta Ketergantungan Pada Facebook Pada Mahasiswa” bertujuan untuk mengetahuai keterkaitan antara introversi kepribadian dengan ketergantungan terhadap facebook. Penelitian ini memiliki 3 hipotesis yang pertama yaitu ada hubungan antara kebutuhan berafiliasi dan introversi kepribadian dengan ketergantungan facebook. Hipotesis kedua yang diajukan ada hubungan positif antara kebutuhan berafiliasi dengan ketergantungan facebook. Hipotesis ketiga yang diajukan adalah ada hubungan positif antara introversi kepribadian dengan ketergantungan facebook. Penelitian ini menggunakan 3 skala secara bersamaan yaitu skala ketergantungan facebook, skala kebutuhan berafiliasi, dan skala introversi kepribadian. Subjek penelitian ini  adalah mahasiswa UNISSULA yang berjumlah 167 orang.
Hasil penelitian menunjukan hipotesis pertama diterima yaitu ada hubungan yang sangat signifikan antara kebutuhan berafiliasi dan introversi kepribadian dengan ketergantungan facebook dikarenakan sesuai dengan yang dikemukakan oleh Yanuar (Dyah, 2009) yang menyebutkan bahwa salah satu faktor internal ketergantungan facebook adalah kepribadian, diluar faktor internal lainnya yaitu kontrol diri, minat, motif, pengetahuan, dan usia. Berkaitan dengan penggunaan media, Katz (Rakhmat, 2000) mendefinisikan beberapa pemenuhan kebutuhan menjadi: kebutuhan kognitif, afeksi, integrasi sosial, integratif sosial (dorongan afiliasi) dan kebutuhan pelarian.
Hipotesis kedua ditolak yaitu ada hubungan negatif yang signifikan antara kebutuhan berafiliasi dengan ketergantungan facebook dikarenakan individu dengan kebutuhan afiliasi tinggi dalam hal ini lebih memilih melakukan hubungan sosialnya secara langsung pada realitas nyata bukan secara virtual yakni melalui facebook.
Hipotesis ketiga diterima yaitu ada hubungan positif yang signifikan antara introversi kepribadian dengan ketergantungan facebook dikarenakan sesuai dengan yang diungkapkan oleh Fulk (1990) bahwa pemilihan media dipengaruhi tidak hanya oleh karakteristik media yang digunakan tetapi juga oleh karakteristik individu dan konteks sosial dengan siapa individu berhubungan. Karakteristik individu adalah kepribadian (Minsky & Marin, 1999). Individu dengan introversi kepribadian dapat menggunakan media facebook untuk menumpahkan segala pikiran dan perasaan dengan orang lain tanpa harus berhadapan langsung (Itriyah, 2004). Individu introvert cenderung menggunakan IT untuk aktivitas solitaire, misalnya browsing informasi dan membaca berita (Maldonado, dkk, 2001).
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan facebook dalam penelitian ini berkategori mendekati sedang. Dan menunjukkan bahwa kebutuhan berafiliasi dalam penelitian ini berada dalam kategori tinggi. Serta menunjukkan bahwa introversi kepribadian dalam penelitian ini mendekati sedang.
B.   Kelebihan
1.      Kelebihan dari penelitian ini adalah penjelasan yang diberikan oleh peneliti sudah cukup jelas sehingga membuat pembaca tidak perlu membaca ulang penelitiannya untuk memahami isi dari penelitian.
2.      Subjek dalam penelitian ini sudah cukup mewakili dari sebagian populasi yang ada.
3.      Penjelasan pada abstrak yang cukup jelas sehingga memudahkan pembaca untuk melakukan review terhadap jurnal tersebut.
4.      Teori yang digunakan dalam penelitian ini cukup lengkap.
C.   Kekurangan
1.      Di hasil tidak menjabarkan dengan grafik sehingga pembaca harus teliti dalam membaca hasil secara keseluruhan.
Daftar Pustaka

http://fpsi.unissula.ac.id/images/5%20pibadi%20pratiwi%20brotowidagdo.pdf  (diakses pada hari jumat, 28 oktober 2016, pukul 15:13)



Tugas 2

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI

APLIKASI TEST IQ BERBASIS MOBILE



Disusun Oleh

Nama              : 1. Desba Nurshafitri        12513200
                          2. Edwin Rico R.              12513775
                        Kelas               : 4PA11
                        Mata Kuliah : Sistem Informasi Psikologi

Depok

2017


1.      Identifikasi masalah
Berkembangnya perangkat mobile serta teknologi yang menyertainya akan sangat berpengaruh pada perkembangan aplikasi mobile. Karena aplikasi mobile merupakan salah satu saranan untuk menyampaikan informasi. Dengan adanya perkembangan tersebut akhirnya memberikan dampak pada berbagai bidang kehidupan kita yang salah satunya adalah pada bidang telekomunikasi.
Saat ini penggunaan fasilitas aplikasi mobile banyak digunakan disegala bidang seperti bidang kedokteran, pariwisata, perbankan, dan lainnya karena dapat memudahkan seseorang untuk mengakses data. Hal ini tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkan suatu aplikasi yang utuh untuk melatih kemampuan otak seperti kemampuan menalar, merencanakan, memecahkan masalah, berfikir abstrak, memahami gagasan, daya ingat, penalaran, dan kecepatan perseptual dengan menggunakan tes IQ. Tes IQ adalah sebuah metode untuk mengetahui kinerja atau kemampuan otak dengan mengerjakan beberapa tes.

2.      Analisis masalah
Tes IQ adalah sebuah metode untuk mengetahui kinerja atau kemampuan otak dengan mengerjakan beberapa tes. Tes ini menuntut seseorang meningkatkan kemampuan dan kecepatan otak mengolah suatu bentuk tugas atau keterampilan tertentu. Pelayanan tentang tes IQ saat ini masih bersifat manual jadi dalam penggunaannya kurang efisien sehingga perlu diterapkan suatu sistem informasi berbasis mobile untuk membantu melatih kinerja otak yang lebih efektif dan efisien dan bisa digunakan dimana saja.
Diharapkan pelayanan tes IQ ini dapat memberikan media untuk melatih dan meningkatkan kinerja otak, serta media ini menjadi solusi yang lebih efisisen dan lebih efektif dibandingkan dengan sistem yang sudah ada.


3.      Analisis kebutuhan
a.       Analisis kebutuhan data
b.      Fungsional
Kebutuhan fungsional berisi proses-proses apa saja yang nantinya dilakukan oleh sistem, yaitu:
1)      Sistem mampu untuk menampilkan soal
2)      Sistem mampu memberikan pilihan jawaban
3)      Sistem mampu menghitung jawaban yang benar
4)      Sistem mampu menampilkan nilai
5)      Sistem dapat menampilkan petunjuk penggunaan

c.       Nonfungsional
Kebutuhan nonfungsional menjabarkan apa saja yang harus dimiliki oleh sistem agar dapat berjalan. Kebutuhan fungsional meliputi:
1)      Kebutuhan perangkat keras
Perangkat keras yang dibutuhkan untuk menjalankan sebuah telepon seluler ataupun mobile device lainnya, yang akan digunakan untuk implementasi aplikasi ini adalah Nokia C2-01.
2)      Kebutuhan perangkat lunak
Perangkat lunak yang dibutuhkan pada saat tahap pembuatan adalah Java Development Kit 6 update 20, Netbeans 6.8, dan Mozilla Firefox serta Sistem Operasi Windows 7. Sedangkan untuk perangkat lunak yang dibutuhkan pada saat implementasi adalah Java MIDP 2.0 CLCD 1.1
3)      Kebutuhan Brainware
Untuk mewujudkan sistem ini maka diperlukan seorang analis dan programer pada tahap pembuatan
1)      Analis
2)      Programer
4.      Tahap Perancangan
a.      Struktur Navigasi
1.      Saat ingin memulai tes lebih baik tampilkan instruksi pengerjaan terlebih dahulu sebelum masuk ke soal.
2.      Dan untuk pilihan jawaban lebih baik ditambah menjadi empat atau lima agar user bisa lebih bervariasi dalam memilih jawaban.
b.      Struktur Interface
1.      Tampilan  pilihan “exit” lebih baik diletakkan di sebelah kanan dan pilihan “pilih” lebih baik diletakkan di sebelah kiri.
2.      Pada tampilan awal dan tampilan dalam tes dibuat bervariasi latarnya agar membuat user menjadi lebih tertarik dalam mengerjakan.
3.      Jika pada saat selesai mengerjakaan dan keluar hasil yang tidak memuaskan alangkah baiknya dibuat agar tidak ada kata-kata yang dapat mengganggu psikis user.

Sumber : Huda, M. S. (2012). Aplikasi tes iq berbasis mobile. Jogjakarta : Sistem Informasi AMIKOM.

Analisis Test Intellegensi Manual dan Test Intellegensi Online atau Berbasis Komputer

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS PSIKOLOGI







Analisis Test Intellegensi Manual dan Test Intellegensi Online atau Berbasis Komputer


Disusun Oleh
Nama              : Edwin Rico R.
NPM               : 12513775
                        Kelas               : 4PA11
                        Mata Kuliah : Sistem Informasi Psikologi


Depok

2016



Tes IQ / Tes Kecerdasan
Merupakan tes yang disusun dan dikembangkan untuk mengetahui kemampuan dasar individu secara umum. Tes kecerdasan tradisional, meskipun terkadang ada yang memiliki beberapa subtest, namun sebenarnya dirancang untuk mendapatkan angka global tunggal ukuran tingkat perkembangan kognitif umum individu. Keluaran angka ini kemudian sering disebut sebagai Intelligence Quotient (IQ).
Contoh Tes IQ Secara Manual
1.     WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children)
Pada tahun 1949 Wechsler menerbitkan pula skala inteligensi untuk digunakan pada anak-anak yang dikembangkan berdasar isi skala W-B. Skala ini diberi nama Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC). Isinya terdiri dari dua sub bagian Verbal (V) dan sub bagian Performance (P). Pada tahun 1974 suatu revisi terhadap tes WISC dilakukan kembali dengan nama WISC-R (R adalah revised). Di tahun 1955, Wechsler menyusun sakala lain untuk orang dewasa dengan memperluas isi tes WISC. Skala ini bernama Wechsler Adult Intelligence Scale (WAIS). Revisi terhadap WAIS telah dilakukan dan diterbitkan pada tahun 1981 dengan nama WAIS-R.
Ø  Skala Verbal yang diukur :
·         Information (Informasi)
·         Comprehension (Pemahaman)
·         Arithmetic (Hitungan)
·         Similarities (Kesamaan)
·         Vocabulary (Kosakata)
·         Digit Span (Rentang Angka)
Ø  Skala Performansi yang diukur :
·         Picture Completion (Kelengkapan Gambar)
·         Picture Arrangement (Susunan Gambar)
·         Block Design (Rancangan Balok)
·         Object Assembly (Perakitan Objek)
·         Coding (Sandi)
·         Mazes (Taman Sesat)
Contoh Tes IQ Secara Online
Situs http://www.quickiqtest.net/indonesian/ merupakan salah satu situs untuk melakukan tes IQ secara Online. Ketika membuka situs tersebut langsung tertera instruksi sebagai berikut:
·         Tes IQ ini terdiri dari 15 pertanyaan dengan gambar-gambar.
·         Pertanyaan-pertanyaan akan dinilai berdasarkan tingkat kesulitannya.
·         Jawaban yang salah tidak akan mengurangi nilai anda yang ada.
·         Hanya selalu ada satu jawaban yang tepat.
Setelah petunjuk instuksi langsung klik saja tombol mulai dan tes IQ dilaksanakan.
Analisa Tes IQ Manual dengan Tes IQ Berbasis Komputer
Seiring berkembangnya teknologi segala aktivitas yang dahulu dilakukan secara langsung atau tatap muka sekarang bisa dilakukan secara online tidak terkecuali dengan tes IQ. Dahulu orang harus membayar untuk melakukan tes IQ dan harus bertatap muka dengan Psikolog/tester, sekarang orang bisa melakukan tes IQ secara online. Namun apakah tes IQ secara online ini hasilnya akan sebagus seperti tes IQ secara manual?
Terdapat beberapa perbedaan antara tes IQ manual dan tes IQ secara online, pertama, tes manual harus ada tester agar bisa melakukan tes dan tester tersebutlah yang memberikan instruksi bagaimana tes harus dikerjakan sedangkan tes online hanya membutuhkan komputer/laptop dan koneksi internet untuk melakukannya. Kedua, hasil tes yang dilakukan secara manual tidak langsung diketahui setelah tes selesai, sedangkan tes online hasil langsung tertera setelah tes selesai. Ketiga, hasil tes secara manual berupa skor dan penjelasan dari skor tersebut, sedangkan yang secara online kebanyakan hanya berupa skor saja tanpa ada penjelasannya.
1.1.Tabel kelebihan dan kekurangan test IQ manual dan test IQ online
Kelebihan
Kekurangan
Dalam tes IQ yang dilakukan secara manual ketika testee tidak paham dengan instruksi testee bisa menanyakan langsung kepada tester.
Tes IQ online tidak bertatap langsung dengan tester ketika testee tidak paham dengan instruksi testee tidak bisa bertanya kepada tester
Tes IQ online tidak membutuhkan biaya untuk melakukannya
Tes IQ secara manual membutuhkan biaya untuk melakukannya
Hasil tes IQ secara manual berupa skor IQ dan penjelasan dari skor tersebut
Hasil tes hanya berupa skor dan tidak ada penjelasan dari skor tersebut


Daftar Pustaka

Sabtu, 18 Juni 2016

Psikoterapi Pengantar Aliran Humanistik

A.Pengantar Aliran Humanistik

1.Definisi Humanistik
Humanistik adalah aliran dalam psikologi yang muncul tahun 1950an sebagai reaksi terhadap behaviorisme dan psikoanalisis. Aliran ini secara eksplisit memberikan perhatian pada dimensi manusia dari psikologi dan konteks manusia dalam pengembangan teori psikologis. 
Permasalahan ini dirangkum dalam lima postulat psikologi Humanistik dari James Bugental (1964), sebagai berikut: 
a.Manusia tidak bisa direduksi menjadi komponen-komponen
b.Manusia memiliki konteks yang unik di dalam dirinya
c.Kesadaran manusia menyertakan kesadaran akan diri dalam konteks orang lain 
d.Manusia mempunyai pilihan-pilihan dan tanggung jawab
e.Manusia bersifat intensional, mereka mencari makna, nilai, dan memiliki kreativitas
Pendekatan humanistik ini mempunyai akar pada pemikiran eksistensialisme dengan tokoh-tokohnya seperti Kierkegaard, Nietzsche, Heidegger, dan Sartre. 
Humanistik mengatakan bahwa manusia adalah suatu ketunggalan yang mengalami, menghayati, dan pada dasarnya aktif, punya tujuan serta punya harga diri. Karena itu, walaupun dalam penelitian boleh saja dilakukan analisis rinci mengenai bagaian-bagian jiwa manusia, namun dalam penyimplannya, manusia harus dikembalikan dalam kesatuan yang utuh. Pandangan seperti ini adalah pandangan yang holistik. Selain itu manusia juga harus dipandang dengan penghargaan yang tinggi terhadap harga dirinya, pengembangan pribadinya, perbedaan-perbedaan individunya dan dari sudut kemanusiaannya itu sendiri. Karena itu psikologi harus memasuki topik-topik yang tidak dimasuki oleh aliran psikoanalisa dan behavior seperti cinta, kreativitas, pertumbuhan, aktualisasi diri, kebutuhan, rasa humor, makna, kebencin, agresivitas, kemandirian, tanggung jawab dan sebagainya. Pandangan ini disebut pandangan humanistik. 
Humanistik menjelaskan adanya keseluruhan kapasitas martabat dan nilai kemanusiaan untuk menyatakan diri (self-realization). Humanisme menentang pesimisme dan keputusan pandangan pskoanalisa dan konsep kehidupan “robot” pandangan behaviorisme. Humanistik yakin bahwa manusia memiliki di dalam dirinya potensi untuk berkembang sehat serta kreatif, dan jika orang mau menerima tanggung jawab untuk hidupnya sendiri, dia akan menyadari potensinya, mengatasi pengaruh kuat dari pendidikan orang tua, sekolah dan tekanan sosial lainnya.

2.Konsep-Konsep Utama
Psikologi eksistensial humanistik berfokus pad kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikao yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu sistem teknik-tekni yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Oleh karena itu, pendekatan eksistensial humanistik bukan suatu aliran tepai, bukan pula suatu teori tunggal yang sistematik. Pendekatan terapi eksisensial juga bukan suatu pendekatan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia. 
a.Kesadaran diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri itu pada seseorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu. Kesanggupan untuk memilih alternative – alternatif yakni memutuskan secara bebas di dalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada manusia.
b.Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan 
Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab dapat menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan eksistensial juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati. Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesadaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi – potensinya.
c.Penciptaan Makna
Manusia itu unik, dalam artian bahwa dia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Pada hakikatnya manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah makhluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna dapat menimbulkan kondisi-kondisi keterasingan dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi – potensi manusiawinya sampai taraf tertentu.

3.Fungsi dan Peran Terapis
Tugas utama terapis adalah berusaha memahami klien sebagai ada dalam-dunia. Teknik yang digunakan mengikuti alih-alih mendahului pemahaman. Karena menekankan pada pengalaman klien sekarang, para terapis eksistensial menunjukkan keluwesan dalam menggunakan metode-metode, dan prosedur yang dgunakan oleh mereka bisa bervariasi tidak hanya dari klien yang satu kepada klien yang lainnya, tetapi juga dari satu fase ke fase terapi yang dijalani oleh klien yang sama. 
Buhler dan Allen (1972) sepakat bahwa psikoterapi difokuskan pada pendekatan terhadap hubungan manusia alih-alih sistem teknik. Menurut Buhler dan Allen, para ahli psikolog humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:
a.Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi
b.Menyadari peran dan tanggung jawab terapis
c.Mengakui sifat timbal balik dari hubungan teurapetik 
d.Berorientasi pada pertumbuhan 
e.Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebaga suatu pribadi yang menyeluruh 
f.Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tangan klien
g.Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien 
h.Mengakui kebebasan klien untuk mengungkap pandangan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri. 

B.Contoh Kasus dan Penyelesaian

Anton (38 tahun) sudah menikah dan memiliki 2 orang anak. Anton adalah seorang karyawan swasta di perusahaan ternama di jakarta. Dia memiliki jabatan yang lumayan tinggi diperusahaannya karna dia itu tipe orang yang pekerja keras dan terus mau belajar. Dia mempunyai prinsip jika dia kerja keras dia akan dapat penghasilan yang banyak dan bisa membahagiakan keluarganya. Dia selalu menghabiskan waktunya di kantor untuk bekerja dan jarang sekali waktu untuk keluarganya. Karena kesibukannya Anton jarang ada waktu untuk keluarganya, padahal istri dan anak anaknya kurang setuju dia bekerja sekeras itu dan pernah mengungkapkan bahwa mereka tidak bahagia walaupun punya banyak uang. Yang keluarganya inginkan adalah Anton dapat meluangkan waktu buat keluarga menghabiskan waktu dengan keluarga. Pada suatu ketika Anton mendapat projek yang besar di kantornya. Jika dia bisa sukes di projeknya tersebut dia mendapatkan jaminan untuk naik jabatan. Namun pada hari pertama menjalankan projeknya tersebut dia jatuh sakit, karna projeknya tetap harus berjalan posisi Anton akhirnya digantikan oleh teman sekantornya. Karena dia kehilangan kesempatan untuk naik jabatan tersebut dia menjadi down sering diam merenung dan stres. Istrinya yang tidak tega akhirnya membawa suaminya ke psikolog untuk menemukan cara penyelesaian masalahnya.

Penanganan :
Tujuan dari konseling dalam pendekatan logoterapi ini diantaranya ialah mengajarkan bahwa setiap kehidupan individu mempunyai maksud, tujuan, makna yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi. Hidup kita tidak lagi kosong jika kita menemukan suatu sebab dan sesuatu yang dapat mendedikasikan eksistensi kita. Namun kalaulah hidup diisi dengan penderitaaan pun, itu adalah kehidupan yang bermakna, karena keberanian menanggung tragedi yang tak tertanggungkan merupakan pencapaian atau prestasi dan kemenangan.
Konselor menggunakan logoterapi untuk memberi pemahaman kepada konselee bahwa dengan musibah yang dia alami pasti terdapat sebuah maksud dan tujuan. Karena konselee sakit dia menjadi sering di rumah dan membuat istri dan anak-anaknya senang karena sang ayah bisa menghabiskan waktu di rumah. Hal itu juga membuat anton kaget karena belum pernah dia melihat keluarganya sebahagia itu hanya dengan dia di rumah. Konselor mejelaskan hal tersebut agar Anton bisa memaknai musibah yang dia terima. Dari kasus yang dialami, Anton sadar kalau ternyata memang harta itu tidak bisa membeli kebahagiaan, ternyata keluarga memang nomer 1 yang paling terpenting. Dan dari kasus inilah Anton belajar untuk membagi waktu antara pekerjaan dengan keluarganya.

Daftar Pustaka

Corey, G. (2007). Teori dan peraktek konseling & psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama

Minggu, 27 Maret 2016

Apakah Suhu Tinggi Menyebabkan Perilaku Agresif?

Topik     : Suhu Tinggi 
Masalah : Apakah suhu tinggi menyebabkan perilaku agresif?

Hipotesis 
Hipotesis ilmiah 
Hipotesis umum : Tempat dengan suhu tinggi dapat menyebabkan perilaku menjadi lebih agresif.
Hipotesis eksplisit : Subjek yang berada di tempat dengan suhu tinggi akan lebih agresif daripada subjek yang berada ditempat dengan suhu rendah. 

Hipotesis statistik 
Ha : Subjek yang berada ditempat dengan suhu tinggi akan memiliki perilaku agresif yang lebih tinggi daripada subjek yang berada ditempat dengan suhu rendah.
Ho : Subjek yang berada ditempat dengan suhu tinggi akan memiliki perilaku agresif yang tidak berbeda daripada subjek yang berada ditempat dengan suhu rendah.

Variabel 
Variabel bebas : Suhu Lingkungan Tinggi 
- Variasi : Ada-Tidak ada, yaitu subjek ditempatkan pada mobil transjakarta yang memiliki AC tidak begitu dingin dengan penumpang yang penuh dan ditempatkan pada mobil transjakarta yang berAC dengan penumpang yang sedikit.
- Manipulasi : Manipulasi kejadian, dengan cara kedua kelompok diminta untuk berjalan pada siang hari dengan jarak sekitar 500m untuk menuju koridor transjakarta untuk membuat suhu tubuh menjadi lebih tinggi. Kemudian, kedua kelompok tersebut masuk kedalam transjakarta yang penumpangnya penuh dan penumpangnya sedikit.

Variabel Terikat : Perilaku Agresif 
- Jenis pengukuran : Perilaku yang tampak 
- Cara pengukuran : Jawaban pasti, yaitu melalui skala Guttman akan diperoleh jawaban yang tegas, yaitu “ya-tidak”. Pernyataan dalam instrumen berupa pernyataan positif dan pernyataan negatif. Untuk setiap pernyataan positif diberi skor 1 untuk yang menjawab “ya” dan 0 untuk yang menjawab “tidak”. Sedangkan setiap pernyataan negatif diberikan skor 0 untuk yang menjawab “ya” dan skor 1 untuk yang menjawa “tidak”.
Variabel sekunder
- Jenis kelamin (dikontrol dengan teknik blocking, yaitu jumlah laki-laki dan perempuan pada setiap kelompok sama banyak).
- Tingkat pendidikan (dikontrol dengan teknik konstansi, yaitu memilih subjek dengan tingkat pendidikan yang sama).
- Usia (dikontrol dengan teknik konstansi, yaitu memilih subjek dengan usia yang sama)
- Stimulus (dikontrol dengan teknik konstansi, yaitu stimulus yang diberikan sama) 
- Status sosial ekonomi (dikontrol dengan teknik randomisasi, yaitu secara acak memasukkan subjek kedalam kelompok kontrol dan kelompok eksperimen)
- Waktu dan jarak (dikontrol dengan teknik konstansi, yaitu waktu dan jarak yang ditempuh subjek sama)
- Kegiatan relaksasi lain (dikontrol dengan teknik konstansi, yaitu semua subjek tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan relaksasi lain selama penelitian) 

Tipe dan desain penelitian 
Tipe penelitian : Controlled laboratory experiment 
Desain penelitian : Desain 2 kelompok (desain antar-kelompok) 

Perencanaan penelitian 
Subjek : Karyawan dan karyawati yang bekerja di salah satu perusahaan. Jumlah subjek yang dibutuhkan hanya 8 orang, dengan masing-masing 4 orang (laki-laki dan perempuan) di tiap kelompoknya.
Peralatan : Skala Guttman memakai kuisioner, transjakarta, dan orang yang memberikan stimulus negatif (bukan KE atau KK).
Prosedur  :
• Delapan subjek diperoleh dari hasil pengundian dari salah satu perusahaan.
• Kemudian untuk memilih kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dilakukan dengan cara mengambil kertas yang masing-masing sudah bertuliskan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen.
• Setelah itu, subjek diminta berjalan pada siang hari sejauh 500m menuju koridor transjakarta untuk menaikkan suhu pada tubuh.
• Pada kelompok eksperimen, subjek diminta untuk masuk ke dalam transjakarta yang penumpangnya penuh dan memiliki AC yang tidak dingin. Sedangkan pada kelompok kontrol, subjek diminta untuk masuk kedalam transjakarta yang penumpangnya sedikit dan AC terasa dingin. 
• Kemudian tidak lama setelah itu, subjek diberikan stimulus negatif oleh orang lain (bukan bagian KE atau KK). Stimulus yang diberikan berupa ada seseorang yang menginjak atau mendorong subjek tersebut secara sengaja untuk memihat apakah perilaku agresi tersebut akan muncul pada suhu tinggi.
• Setelah turun dari transjakarta dan beristirahat sebentar, subjek diberikan kuisioner untuk melihat perilaku agresi yg muncul pada kelompok eksperimen.

Senin, 25 Januari 2016

Tugas 8 - Psikologi Manajemen

Makalah Psikologi Manajemen
Komunikasi Organisasi




FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA

Disusun Oleh :
Nama : Edwin Rico R.
Npm : 12513775
Kelas : 3PA11





BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Di dalam kehidupan seseorang tidak akan terlepas dari yang namanya komunikasi. Lebih lagi komunikasi dalam organisasi yang mana di dalamnya ada atasan dan bawahan. Komunikasi yang dilakukan oleh atasan dan bawahan dalam ruang lingkup organisasi akan memberikan berbagai efektifitas komunikasi itu sendiri.
Komunikasi dalam organisasi sangat dibutuhkan agar dalam organisasi dapat mencapai tujuan yang diinginkan oleh setiap anggota dalam organisasi. Setiap komunikasi dalam organisasi biasanya dimanfaatkan untuk saling berbagi dan mencari tahu apa yang dibutuhkan dalam organisasi serta apa kekurangan dalam organisasi tersebut. Dari sinilah kita akan mempelajari bagaimana cara berkomunikasi dalam organisasi.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa itu definisi komunikasi organisasi?
2.      Apa saja dimensi-dimensi komunikasi organisasi?
3.      Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi organisasi?
4.      Apa saja bentuk komunikasi organisasi?
5.      Bagaimana proses komunikasi?
6.      Apa saja hambatan-hambatan dalam komunikasi organisasi?
C.    Tujuan Penulisan
Tujuan dari dilakukannya penulisan makalah ini selain sebagai tugas softskill. Adapun tujuan dari penulisan itu:
1.      Untuk mengetahui definisi komunikasi organisasi
2.      Untuk mengatahui dimensi-dimensi komunikasi organisasi
3.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi organisasi
4.      Untuk mengetahui bentuk komunikasi organisasi
5.      Untuk mengatahui bagaimana proses dari komunikasi organisasi
6.      Untuk mengatahui hambatan-hambatan dalam komunikasi organisasi





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Definisi Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi adalah pengiriman (sending) dan penerimaan (receiving) berbagai pesan organisasi di dalam kelompok di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Bila organisasi semakin besar dan kompleks maka akan mengakibatkan semakin kompleks pula proses komunikasinya. Organisasi yang masih kecil, yang anggotanya hanya berjumlah tiga orang atau kurang dari lima, proses komunikasi yang berlangsung relatif sederhana dan masih bersifat langsung mengarah ke setiap anggota organisasi. Tetapi organisasi yang anggotanya banyak misalnya lebih dari seribu orang seperti HMI, GMKI, LEMA, ataupun Partai politik dan lainnya menjadikan komunikasinya menjadi lebih kompleks.
Komunikasi organisasi memiliki dua sifat yang tergantung oleh persetujuan yang dimiliki. Sifat dari komunikasi organisasi pertama ialah formal. Komunikasi organisasi formal adalah komunikasi yang disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya beriorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas dan berbagai pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi. Seperti memo, pernyatan, kebijakan, surat surat resmi dan jumpa pers. Sifat organisasi yang kedua adalah komunikasi organisasi informal. Anggota organisai yang menggunakan komunikasi organisasi informal adalah komunikasi yang disetujui secara sosial. Arah komunikasi tersebut tidak secara langsung kepada organisasi melainkan kepada anggota individu atau anggota organisasi tersebut.

Beikut beberapa definisi komunikasi organisasi menurut pakar komunikasi organisasi :
·         Frank Jefkinse mengatakan bahwa komunikasi organisasi terdiri atas semua bentuk-bentuk komunikasi yang direncanakan, ke arah luar dan ke arah dalam, antara sebuah organisasi dan publiknya karena tujuan dari pencapaian sasaran tertentu mengenai pemahaman.
·         Pace dan Feules mengatakan bahwa komunikasi organisasi dapat didefinisikan sebagai penunjukan dan penafsiran suatu pesan diantara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu.
·         Wiryanto mengatakan bahwa komunikasi organisasi adalah pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Komunikasi formal adalah komunikasi yang di setujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara kerja di dalam organisasi, produktivitas, dan berbgai perkerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi.

B.     Dimensi - Dimensi Komunikasi Organisasi
1.      Komunikasi Internal
Komunikasi internal organisasi adalah proses penyampaian pesan antara anggota-anggota organisasi yang terjadi untuk kepentingan organisasi, seperti komunikasi antara pimpinan dengan bawahan, antara sesama bawahan, dsb. Proses komunikasi internal ini bisa berujud komunikasi antarpribadi ataupun komunikasi kelompok. Juga komunikasi bisa merupakan proses komunikasi primer maupun sekunder (menggunakan media massa). Komunikasi internal ini lazim dibedakan menjadi dua, yaitu: Komunikasi vertikal dan komunikasi horizontal.
2.      Komunikasi Eksternal
Komunikasi eksternal organisasi adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak di luar organisasi. Pada organisasi besar, komunikasi ini lebih banyak dilakukan oleh kepala hubungan masyarakat dari pada pimpinan sendiri. Yang dilakukan sendiri oleh pimpinan hanyalah terbatas pada hal-hal yang ianggap sangat penting saja. Komunikasi eksternal terdiri dari jalur secara timbal balik :
·         Komunikasi dari organisasi kepada khalayak. Komunikasi ini dilaksanakan umumnya bersifat informatif, yang dilakukan sedemikian rupa sehingga khalayak merasa memiliki keterlibatan, setidaknya ada hubungan batin. Komunikasi ini dapat melalui berbagai bentuk, seperti: majalah organisasi; press release; artikel surat kabar atau majalah; pidato radio; film dokumenter; brosur; leaflet; poster; konferensi pers.
Komunikasi dari khalayak kepada organisasi. Komunikasi dari khalayak kepada organisasi merupakan umpan balik sebagai efek dari kegiatan dan komunikasi yang dilakukan oleh organisasi.

C.    Faktor Yang Memengarhui Komunikasi Organisasi
1.      Pengetahuan tentang komunikasi dan keterampilan berkomunikasi
Yang dimaksudkan adalah penguasaan bahasa dan keterampiIan mempergunakan bahasa; keterampilan mempergunakan media komunikasi untuk mempermudah proses pengertian pada resipiens; kemampuan untuk mengenal dan menganalisis situasi pendengar sehingga dapat memberikan sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Di samping itu jenis hubungan antara komunikator dan resipiens dapat juga mempengaruhi efektivitas proses komunikasi.
2.      Sikap Komunikator
Sikap komunikator seperti agresif (menyerang) atau cepat membela diri, sikap yang mantap dan meyakinkan; sikap rendah hati, rela mendengar dan menerima anjuran dapat memberi dampak yang besar dalam proses komunikasi retoris.
3.      Pengetahuan Umum
Demi efektivitas dalam komunikasi retoris, komunikator se-baiknya memiliki pengetahuan umum yang luas, karena dengan begitu dia dapat mengenal dan menyelami situasi pendengar dan dapat mengerti mereka secara lebih baik. Dia harus mengetahui dan menguasai bahan yang dibeberkan secara mendalam, teliti dan tepat. Dia juga hendaknya mengetahui dan mengerti hal-hal praktis dari kehidupan harian para pendengarnya, supaya dapat menyampaikan sesuatu yang mampu menggugah hati mereka.
4.      Sistem Sosial
Setiap komunikator berada dan hidup di dalam sistem masyarakat tertentu. Posisi, pangkat atau jahatan yang dimiliki komunikator di dalam masyarakat sangat mempengaruhi efektivitas komunikasi retoris (misalnya: sebagai pemimpin atau bawahan; sebagai orang yang berpengaruh atau tidak).
5.      Sistem Kebudayaan
Di samping sistem sosial, sistem kebudayaan yang dimiliki se-orang komunikator juga dapat mempengaruhi efektivitas komunikasi retoris. Tingkah laku, tata adab dan pandangan hidup yang diwarisinya dari suatu kebudayaan tertentu akan juga mempengaruhi efektivitas dalam proses komunikasi retoris dengan manusia lain.

D.    Bentuk Komunikasi Organisasi
1.      Komunikasi Vertikal
Bentuk komunikasi ini merupakan bentuk komunikasi yang terjadi dari atas ke bawah dan sebaliknya. Artinya komunikasi yang disampaikan pimpinan kepada bawahan, dan dari bawahan kepada pimpinan secara imbale balik. Fungsi komunikasi ke bawah digunakan pimpinan untuk:

a.  Melaksanakan kebijaksanaan, prosedur kerja, peraturan, instruksi, mengenai pelaksanaan kerja bawahan.
b.      Menyampaikan pengaruh doktrinasi, evaluasi, teguran.
c.  Memberikan informasi mengenai tujuan organisasi, kebijaksanaan-kebijaksaan organisasi, insentif.

Seorang pimpinan harus lebih memperhatikan komunikasi dengan bawahannya, dan memahami cara-cara mengambil kebijaksanaan, terhadap bawahannya. Keberhasilan organisasi dilandasi oleh perencanaan yang tepat, dan seorang pimpinan organisasi yang memiliki jiwa kepemimpinan. Kedua hal terseut merupakan modal utama untuk kemajuan organisasi yang dipimpinnya. Fungsi komunikasi ke atas digunakan untuk :

a.       Memberikan pengertian mengenai laporan prestasi kerja, saran, usulan, opini, permohonan bantuan, dan keluhan.
b.      Memperoleh informasi dari bawahan mengenai kegiatan dan pelaksanaan pekerjaan bawahan dari tingkat yang lebih rendah.

Bawahan tentulah berharap agar ide, saran, pendapat, tanggapan maupun kritikannya dapat diterima dengan lapang dada, dan hati terbuka oleh pimpinan.

2.      Komunikasi Horizontal
Bentuk komunikasi secara mendatar, diantara sesama karyawan dsbnya. Komunikasi horizontal sering kali berlangsung tidak formal. Komunikasi horizontal atau lateral, yaitu komunikasi antara sesama seperti dari karyawan kepada karyawan, manajer kepada manajer. Pesan dalam komunikasi ini bisa mengalir di bagian yang sama di dalam organisasi atau mengalir antarbagian. Komunikasi lateral ini memperlancar pertukaran pengetahuan, pengalaman, metode, dan masalah. Hal ini membantu organisasi untuk menghindari beberapa masalah dan memecahkan yang lainnya, serta membangun semangat kerja dan kepuasan kerja.
3.      Komunikasi Diagonal
Bentuk komunikasi ini sering disebut juga komunikasi silang. Berlangsung dari seseorang kepada orang lain dalam posisi yang berbeda. Dalam arti pihak yang satu tidak berada pada jalur struktur yang lain. Fungsi komunikasi diagonal digunakan oleh dua pihak yang mempunyai level berbeda tetapi tidak mempunyai wewenang langsung kepada pihak lain.

E.     Proses Komunikasi
Proses komunikasi dalam organisasi :
1.      Proses ideasi
Tahap pertama dalam suatu proses komunikasi adalah ideasi (ideation) yaitu proses penciptaan gagasan atau informasi yang dilakukan oleh komunikator.
2.      Proses encoding
Gagasan atau informasi disusun dalam serangkaian bentuk simbol atau sandi yang dirancang untuk dikirimkan kepada komunikan dan juga pemilihan saluran dan media komunikasi yang akan digunakan.
3.      Proses pengiriman
Gagasan atau pesan yang telah disimbolkan atau disandikan (encoded) melalui saluran dan media komunikasi yang tersedia dalam organisasi. Pengiriman pesan dapat dilakukan dengan berbicara, menulis, menggambar dan bertindak.
4.      Proses penerimaan
Penerimaan pesan ini dapat melalui proses mendengarkan, membaca, atau mengamati tergantung pada saluran dan media yang digunakan untuk mengirimkannya.
5.      Proses decoding
Pesan-pesan yang diterima diintrepretasikan, dibaca, diartikan,dan diuraikan secara langsung atau tidak langsung melalui proses berfikir.
6.      Proses tindakan
Respon komunikan dapat berbentuk usaha melengkapi informasi, meminta informasi tambahan, atau melakukan tindakan-tindakan lain.

F.     Hambatan-Hambatan dalam Komunikasi Organisasi
1.      Hambatan dari Proses Komunikasi
Hambatan dari pengirim pesan, misalnya pesan yang akan disampaikan belum jelas bagi dirinya atau pengirim pesan, hal ini dipengaruhi oleh perasaan atau situasi emosional.
a.   Hambatan dalam penyandian/symbol. Hal ini dapat terjadi karena bahasa yang dipergunakan tidak jelas sehingga mempunyai arti lebih dari satu, simbol yang dipergunakan antara si pengirim dan penerima tidak sama atau bahasa yang dipergunakan terlalu sulit.
b.  Hambatan media, adalah hambatan yang terjadi dalam penggunaan media komunikasi, misalnya gangguan suara radio dan aliran listrik sehingga tidak dapat mendengarkan pesan.
c.       Hambatan dalam bahasa sandi. Hambatan terjadi dalam menafsirkan sandi oleh si penerima.
d.      Hambatan dari penerima pesan, misalnya kurangnya perhatian pada saat menerima /mendengarkan pesan, sikap prasangka tanggapan yang keliru dan tidak mencari informasi lebih lanjut.
e. Hambatan dalam memberikan balikan. Balikan yang diberikan tidak menggambarkan apa adanya akan tetapi memberikan interpretatif, tidak tepat waktu atau tidak jelas dan sebagainya.
2.      Hambatan Fisik
Hambatan fisik dapat mengganggu komunikasi yang efektif, cuaca gangguan alat komunikasi, dan lain lain, misalnya: gangguan kesehatan (cacat tubuh misalnya orang yang tuna wicara), gangguan alat komunikasi dan sebagainya.
3.      Hambatan Semantik
Faktor pemahaman bahasa dan penggunaan istilah tertentu. Kata-kata yang dipergunakan dalam komunikasi kadang-kadang mempunyai arti mendua yang berbeda, tidak jelas atau berbelit-belit antara pemberi pesan dan penerima pesan. Misalnya : adanya perbedaan bahasa ( bahasa daerah, nasional, maupun internasional), adanya istilah – istilah yang hanya berlaku pada bidang-bidang tertentu saja, misalnya bidang bisnis, industri, kedokteran, dll.
4.      Hambatan Psikologis
Hambatan psikologis dan sosial kadang-kadang mengganggu komunikasi, misalnya; perbedaan nilai-nilai serta harapan yang berbeda antara pengirim dan penerima pesan, sehingga menimbulkan emosi diatas pemikiran-pemikiran dari sipengirim maupun si penerima pesan yang hendak disampaikan.
5.      Hambatan Manusiawi
Terjadi karena adanya faktor, emosi dan prasangka pribadi, persepsi, kecakapan atau ketidakcakapan, kemampuan atau ketidakmampuan alat-alat pancaindera seseorang, dll.

Salah satu kesalahan terbesar yang dibuat dalam komunikasi adalah anggapan bahwa pengertian terletak dalam “kata-kata” yang digunakan. Di samping itu, bahasa-bahasa “non-verbal” yang tidak konsisten, seperti nada suara, ekspresi wajah, dan sebagainya dapat menghambat komunikasi.





BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Komunikasi organisasi adalah pengiriman (sending) dan penerimaan (receiving) berbagai pesan organisasi di dalam kelompok di dalam kelompok formal maupun informal dari suatu organisasi. Bila organisasi semakin besar dan kompleks maka akan mengakibatkan semakin kompleks pula proses komunikasinya. Dalam komunikasi organisasi dapat dibedakan menjadi komunikasi vertikal, horizontal, dan diagonal. Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhui komunikasi organisasi diantaranya faktor pengatahuan dan keterampilan dalam berkomunikasi, selain itu terdapat hambatan-hambatan yang terjadi dalam komunikasi organisasi dikarenakan adanya kekuatan-kekuatan dari luar yang menghambatnya.





SUMBER REFERNSI